Konflik di Timur Tengah yang Memperburuk Kekacauan Global

Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki fase paling berbahaya sejak dimulai pada akhir Februari. Berbagai peristiwa seperti bocornya dokumen intelijen AS, tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta ancaman operasi darat dari Presiden Donald Trump telah menjadikan perang ini bukan sekadar serangan militer, melainkan pertarungan geopolitik yang dapat mengubah peta kekuasaan dunia.

Intelijen Bocor: Washington Putus Asa

Dokumen Dewan Intelijen Nasional (NIC) yang terungkap menunjukkan pesimisme Washington terhadap kemampuan mereka untuk menggulingkan rezim Iran. Analisis menyebutkan bahwa serangan besar-besaran tidak akan mampu menggulingkan rezim Iran karena struktur politik dan militer negara tersebut dirancang untuk tetap bertahan, bahkan jika pemimpin senior terbunuh. Artinya, kematian Khamenei tidak otomatis melemahkan sistem pemerintahan Iran.

Trump dan Pesan ke Rakyat Iran

Trump menyerukan rakyat Iran untuk berlindung selama serangan, lalu mengambil alih pemerintahan setelahnya. Ia juga meminta Garda Revolusi Iran menyerah dengan imunitas sebagai imbalan. Namun, pesan ini dianggap mustahil di tengah struktur kekuasaan Iran yang solid.

Khamenei Tewas, Suksesi Jadi Taruhan

Serangan udara AS–Israel menewaskan Khamenei bersama keluarganya. Trump kemudian menyatakan ingin ikut menentukan siapa penggantinya, menolak Mojtaba Khamenei sebagai calon. Ia bahkan mengklaim sudah memiliki “tiga nama bagus” untuk memimpin Iran, meski enggan menyebutkan siapa.

Ancaman Operasi Darat

Memasuki pekan kedua, Trump mengisyaratkan kemungkinan invasi darat. Iran menantang, menyatakan siap menghadapi pasukan AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan, “Kami bahkan menunggu mereka. Itu akan menjadi bencana besar bagi mereka.”

Korban Jiwa dan Dampak Global

Korban tewas: 1.332 orang di Iran sejak 28 Februari. Target militer: 3.000 sasaran dihancurkan, termasuk 43 kapal perang Iran. Selat Hormuz: Iran memperingatkan akan menargetkan kapal AS/Israel. Eropa: Diperingatkan bisa jadi target sah jika ikut campur. Rusia: Memberikan dukungan intelijen kepada Iran, sekaligus memanfaatkan lonjukan permintaan energi.

Konflik ini bukan hanya soal militer. Rusia dan Eropa kini ikut terseret, sementara pasar energi global terguncang. Selat Hormuz sebagai jalur vital minyak dunia menjadi titik rawan. Jika perang melebar, dampaknya bisa menjalar ke ekonomi global dan stabilitas politik internasional.

Perang AS–Israel melawan Iran

Perang AS–Israel melawan Iran kini bukan sekadar serangan udara, melainkan pertarungan ideologi, suksesi politik, dan perebutan pengaruh global. Ancaman operasi darat dari Trump menandai eskalasi baru, sementara dukungan Rusia dan ancaman terhadap Eropa menunjukkan konflik ini berpotensi menjadi krisis internasional terbesar dekade ini.

Memasuki hari kesembilan atau pekan kedua, Presiden AS Donald Trump bahkan kembali mengancam akan meningkatkan serangan, termasuk membuka kemungkinan operasi darat jika diperlukan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejauh ini belum sepenuhnya mencapai target yang diinginkan.

Berbeda dengan sejumlah operasi militer lain yang banyak mengandalkan serangan udara, operasi terhadap Iran masih menghadapi berbagai kendala. Di sisi lain, tujuan militernya juga tampak berubah-ubah, mulai dari menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal negara tersebut, hingga mengganti pemerintahan yang berkuasa di Teheran.

Trump pada Sabtu (7/3/2026) bahkan mengisyaratkan bahwa konflik dengan Iran bisa berakhir jika negara itu tidak lagi memiliki kekuatan militer yang berfungsi atau kepemimpinan yang masih berkuasa. “Pada titik tertentu, mungkin tidak akan ada lagi orang yang tersisa untuk mengatakan ‘kami menyerah’,” kata Trump, dikutip dari Reuters.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya siap menghadapi kemungkinan invasi darat dari pasukan AS di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat. Dalam wawancara video dengan NBC News dari Teheran pada Kamis (5/3/2026), Araghchi menegaskan Iran tidak berniat melakukan negosiasi dengan Washington dan tidak pernah meminta gencatan senjata. Wawancara tersebut disampaikan kepada pembawa acara Tom Llamas saat serangan udara AS dan Israel masih berlangsung di berbagai wilayah Iran.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan invasi darat AS, Araghchi menunjukkan sikap menantang. “Kami bahkan menunggu mereka. Kami yakin dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka,” ujarnya. Araghchi juga mengatakan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata meskipun negaranya terus diserang. Ia bahkan mengklaim bahwa dalam konflik sebelumnya, justru Israel yang meminta gencatan senjata setelah menghadapi perlawanan dari Iran.

Dilaporkan Al Jazeera pada Minggu (8/3/2026), gelombang pemboman intensif kembali menghantam Teheran pada Sabtu pagi. Jumlah korban tewas dilaporkan mencapai sedikitnya 1.332 orang.