Penelitian Internasional Temukan Mikroplastik di Laut Dalam Wilayah Indonesia
Sebuah penelitian gabungan antar-negara telah menemukan mikroplastik di lautan wilayah Indonesia hingga kedalaman 2.450 meter. Partikel plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter ini dinilai memiliki potensi untuk masuk ke dalam rantai makanan laut dan akhirnya dikonsumsi oleh manusia. Corry Yanti Manullang, dari Pusat Riset Laut Dalam, Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa arus laut tidak hanya membawa massa air, garam, dan nutrien, tetapi juga bisa membawa partikel kecil seperti mikroplastik.
Penelitian ini merupakan kolaborasi antara para peneliti dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Lokasi penelitian berada di sekitar Arlindo (Arus Lintas Indonesia), yang menghubungkan Samudra Pasifik dengan Samudra Indonesia. Arus ini melalui beberapa selat penting seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional, Marine Pollution Bulletin, dengan judul artikel "Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways". Menurut Corry, penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo.
Sebelumnya, penelitian tentang Arlindo lebih fokus pada aspek fisik laut seperti suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Sementara itu, sebagian besar penelitian mikroplastik di perairan Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir.
Tim peneliti gabungan melakukan pengambilan sampel kolom air di 11 lokasi stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok. Kedalaman pengambilan sampel bervariasi, mulai dari 5 meter hingga mencapai 2.450 meter. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (conductivity, temperature, depth), sehingga memungkinkan peneliti untuk mengambil air secara spesifik pada kedalaman tertentu.
Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik. Rata-rata konsentrasinya sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.
Analisis menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis. Corry menjelaskan bahwa baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan.
Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman. Beberapa di antaranya adalah polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri. Menurut Corry, temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik. Di kedalaman tertentu, arus lintas Indonesia cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air.
Mikroplastik Dimakan Zooplankton
Selain meneliti distribusi mikroplastik di kolom air, tim peneliti juga mengkaji apakah partikel tersebut telah masuk ke rantai makanan laut di sekitar arus lintas Indonesia. Dalam studi lain yang dipublikasikan di jurnal Sains Malaysiana, berjudul "Ingestion of Microplastics in the Planktonic Copepod from the Indonesian Throughflow Pathways", Corry dan tim menemukan bahwa mikroplastik telah ditemukan dalam tubuh organisme zooplankton kecil bernama kopepoda.
Kopepoda merupakan zooplankton yang sangat melimpah di laut dan menjadi sumber makanan penting bagi berbagai jenis ikan. Dalam penelitian tersebut, sekitar 6.000 individu kopepoda dianalisis dari beberapa lokasi di jalur Arlindo. Hasilnya menunjukkan ada 133 partikel mikroplastik ditemukan di dalam tubuh organisme tersebut. Rata-rata tingkat konsumsi mikroplastik tercatat sekitar 0,022 partikel per individu atau setara dengan satu partikel plastik pada setiap 45 kopepoda.

Penelitian mikroplastik pada tubuh zooplankton kopepoda (Copepoda). Dok. BRIIN
Corry menjelaskan bahwa kopepoda tidak bisa membedakan mana makanan alami dan mana partikel plastik. Apa pun yang lewat di depannya akan ditangkap dan dimakan. Penelitian juga menunjukkan bahwa kopepoda berukuran lebih besar cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibandingkan yang berukuran lebih kecil.
Masuknya mikroplastik ke tubuh kopepoda menjadi perhatian karena organisme ini merupakan sumber makanan utama bagi berbagai jenis ikan. Kopepoda dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan yang lebih besar, hingga akhirnya ikan tersebut dikonsumsi manusia. Artinya, mikroplastik berpotensi berpindah sepanjang rantai makanan hingga ke manusia.
Corry mengatakan penelitian mengenai mikroplastik di laut Indonesia masih perlu terus dikembangkan, terutama di wilayah laut dalam. Menurut dia, sekitar 70 persen wilayah laut Indonesia memiliki kedalaman lebih dari 200 meter. Sehingga, penelitian di ekosistem tersebut masih relatif terbatas.
Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Mikroplastik sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan.